Berita

PENGENALAN VARIETAS UNGGUL BARU PADI (VUB) INPARI 42 AGRITAN GSR DENGAN SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO 2 :1 MELALUI KEGIATAN DEMPLOT DI DESA MANDALA DAN ANDULANG, KECAMATAN GAPURA, KABUPATEN SUMENEP

2019-05-08 09:06:45 oleh Admin

08 MEI 2019

SUMENEP - Inpari 42 Agritan GSR (Green Super Rice) merupakan varietas unggul baru padi yang dirilis tahun 2016. Varietas ini memiliki beberapa keunggulan yaitu potensi hasil mencapai 10.58 ton/ha dengan rata-rata hasil 7.11 ton/ha, tahan rebah, tekstur nasi pulen, lebih tahan terhadap serangan penyakit blast dan kresek dibandingkan varietas padi yang sering ditanam petani, serta lebih tahan terhadap kondisi sub-optimum khususnya kekeringan. Produktivitas yang pernah dicapai oleh petani peserta kegiatan Kaji Terap di Desa Gapura Tengah Kecamatan Gapura pada MH II tahun 2018 yaitu 8.7 ton/ha GKP. Tahun 2018 memiliki jumlah bulan basah lebih sedikit, ditandai oleh menurunnya curah hujan secara tidak normal (dikenal sebagai Fenomena El Nino).

Sukses petani di Desa Gapura Tengah ini menjadi bukti bahwa VUB ini sesuai dengan agroklimat setempat dan layak diperhitungkan, sehingga perlu diperkenalkan lebih luas melalui kegiatan demplot. Pada MH I tahun 2018/2019, demplot diperluas di beberapa desa di Kecamatan Gapura, diantaranya di Desa Mandala (poktan Maju Bersama Mandala) dan Andulang (poktan Tan iBarokah) dengan luasan masing-masing 0.25 Ha, yang dilakukan secara swadaya kerjasama petani dan PPL. Kegiatan semai dan tanam dilakukan pada bulan Desember 2018. Adapun teknologi budidaya yang diterapkan dalam kegiatan demplot ini, yaitu :

  1. Varietas Unggul Baru (VUB) padi : Inpari 42 Agritan GSR
  2. Seleksi benih menggunakan larutan garam (uji bernas)
  3. Pengelolaan persemaian, diantaranya pengaturan bedengan semai (lebar 1 - 1.25 m), kebutuhan benih 1 m2 sebanyak 1 kg.
  4. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) secara terpadu, diantaranya pengumpulan telur hama penggerek batang saat persemaian, aplikasi PGPR (Pseudomonas fluorens) saat pindah tanam dan umur 15 HST untuk pencegahan terhadap serangan penyakit blast dan hawar daun bakteri, serta pemanfaatan tanaman refugia.
  5. Pindah tanam bibit muda pada umur maksimal 20 HSS (Hari Setelah Semai).
  6. Sistem tanam menggunakan Jajar Legowo 2 : 1 dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm x 12-15 cm, dengan jumlah bibit per lubang yaitu 2 bibit.
  7. Pemupukan dilakukan secara berimbang, dengan memperhatikan 5 tepat pemupukan, yaitu tepat waktu, jenis, dosis, cara dan tempat.

Dalam perkembangan tanaman dilapang menunjukkan bahwa VUB ini lebih tahan terhadap serangan blast dan HDB dibandingkan varietas lainnya (red: Ciherang dan IR 64), bulir terisi penuh hingga pangkal serta lebih tahan rebah. Apabila dibandingkan dengan varietas Ciherang pada perlakuan yang sama, Inpari 42 Agritan GSR tampak lebih rensponsif terhadap pupuk yang diberikan, ditandai oleh warna daun yang lebih hijau dan segar. Varietas ini juga dikenal hemat dalam penggunaan pupuk dikarenakan system perakarannya yang lebih dalam. Keunggulan lainnya yang juga terbukti dilapang adalah ketahanan terhadap kekeringan. Pertanaman di lokasi demplot Desa Mandala beberapa kali mengalami kekeringan, yaitu seminggu setelah pindah tanam selama 5 hari dan menjelang pembentukan primordial malai selama lebih dari satu minggu. Bila dibandingkan dengan pertanaman Ciherang disebelahnya,  Nampak Inpari 42 Agritan GSR lebih hijau sedangkan Ciherang daunnya mulai menguning.

Ubinan dilakukan di masing-masing lokasi demplot untuk mengestimasi produktivitas yang dicapai. Produktivitas yang dicapai di Desa Mandala dan Andulang berturut-turut yaitu 5.728 dan 8.040 ton/ha GKP. Rendahnya produktivitas yang dicapai di lokasi demplot Desa Mandala disebabkan oleh jumlah anakan dan jumlah bulir yang lebih sedikit. Hal ini disebabkan oleh factor kekeringan yang terjadi pada fase kritis pertumbuhan yaitu saat bibit aktif membentuk anakan dan saat pembentukan primordial malai. Secara keseluruhan, VUB Inpari 42 Agritan GSR menunjukkan performa yang baik di lapangan dan petani pelaksana merasa puas karena lebih minim biaya perawatan khususnya dalam penggunaan pestisida, serta adanya peningkatan hasil dari tanam sebelumnya. Peningkatan minat petani ditandai oleh meluasnya penanaman VUB ini di Desa Mandala dan Andulang, serta beberapa desa di Kecamatan Gapura, bahkan juga diluar kecamatan.(DK)